Sejarah / Filosofi
Penemuan Awal
Assalamualaikum wr. wb.
Alhamdulillaahi robbil ‘alamiin, sekitar bulan Januari 2007 anak saya meminta untuk dipetikkan sebuah batang pepaya. Karena saya menunggu anak yang sedang bermain, tidak sengaja terpikir dalam benak saya apakah batang pepaya dapat dibuat “kreasi”. Dalam waktu itu juga saya mencoba memotong miring batang pepaya, dan saya sambung-sambung menjadi sebuah kaligrafi kalimat tauhid (Laa ilaaha Illallah). Setelah jadi tulisan kaligrafi, saya langsung terinspirasi untuk menggunakan bambu, karena bentuk bambu mirip dengan batang pepaya, dan bambu merupakan salah satu tumbuhan yang banyak terdapat di Indonesia.
Bambu juga merupakan bahan dasar yang banyak digunakan oleh para pengrajin lainnya, karena mempunyai nilai seni yang tinggi, mudah didapat dan harganya relatif murah. Untuk itu saya ingin kerajinan yang berbahan dasar bambu ini menjadi suatu seni kaligrafi yang memiliki nilai seni yang tinggi dan unik.
Seni kaligrafi ini merupakan kaligrafi yang cara pembuatannya memadukan aneka bentuk lengkungan bambu dengan berbagai ukuran yang dipotong miring/runcing, sehingga menghasilkan kaligrafi yang unik dengan bentuk lengkung dan runcing serta tampak artistik.
Untuk itu saya memberi nama kaligrafi ini dengan sebutan:
“Kaligrafi Bambu Runcing” - AL MUSTAMIL
Kata “Bambu Runcing” saya gunakan karena bentuk potongan yang runcing menyerupai senjata yang digunakan Pejuang Indonesia dalam mengusir penjajah, sedangkan senjata tersebut sudah jarang digunakan, karena di Indonesia sudah mempunyai senjata yang lebih canggih. Saat ini masyarakat sedang mengalami krisis moral, jadi saya memperkenalkan suatu karya seni yang ada unsur religinya, intinya untuk memerangi hawa nafsu dunia. Sedangkan “Al Mustamil” sendiri diambil dari nama saya. Ketertarikan saya dengan kaligrafi bambu ini karena dalam setiap pembuatannya membutuhkan ketelitian, ketelatenan, kesabaran serta jiwa seni, sehingga karya yang dihasilkan tampak artistik, natural dan yang membuat saya lebih tertarik terlihat efek tiga dimensinya.
Dan saya berusaha menghargai ayat-ayat Al-Qur’an, dengan cara mengaplikasikan pada sebuah karya seni yang dapat ditempatkan pada tempat yang sesuai (di atas), karena Al-Qur’an merupakan pedoman manusia. Mudah-mudahan dengan adanya seni Kaligrafi Bambu Runcing yang bernuansa religius ini, dapat mempunyai nilai lebih bukan sekedar nilai seninya saja tetapi juga dapat dipahami isi kandungannya.
Saya sebagai manusia biasa masih banyak kekurangan, kritik dan saran yang produktif sangat kami harapkan. Wallaahu a’lam bisshowaab.
Wassalamualaikum wr. wb
Penulis,
Mustamil